
Saat Alam Berbicara
Puisi: Saat Alam Berbicara
*Karya Salsabila*
Sering kita dengar suara yang tak berasal dari manusia
Bukan nyanyian burung,bukan desiran angin.
Suara siapakah itu ?
Itu adalah bumi
Tempat kita berpijak, tempat keindahan bersemayam.
Tapi apa yang ia suarakan?
Mengapa ia bersuara?
Bukankah bumi telah sempurna?
Bumi Berkata
“Cukup…sudah terlalu lama kalian mengambil tanpa mengembalikan,
Menebang tanpa menanam, membangun tanpa memikirkan
Siapa yang akan kehilangan rumah”
Gunung kesakitan karena diratakan
Hutan menyimpan luka tebasan
Sungai membawa tangis yang hanyut Bersama sampah dan keserakahan
Hujan pun turun dengan sangat derasnya
Bukan sekedar hanya ingin membasahi tanah dan menyiram tanaman
Melainkan mengingatkan bahwa setiap tetes hujan yang jatuh,
Adalah air mata pohon-pohon yang tumbang,
Menangisi tanah yang dulu mereka peluk erat.
Ketika ombak membesar, laut menuangkan isinya,
Ketika angin bergemuruh, mengamuk, menghantam tanpa ampun,
Ketika bumi bergetar hingga retak,
Dan gunung meludahkan api dan abu.
Barulah manusia bertanya, mengapa semua ini terjadi?
Padahal alam telah berbisik sejak lama, namun kita memilih diam.
Termakan oleh ambisi yang tak akan pernah puas.

Penulis
Salsabila, lahir 2 Maret 2006 di Desa Lempe, Kecamatan Dampal Selatan, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Seorang mahasiswi Prodi Sastra Indonesia, Universitas Alkhairaat Palu.
Puisi di atas menjadi karya yang mendapatkan penghargaan juara pertama lomba penulisan puisi pada Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Sulawesi Tengah tahun 2026 pada 30 Juni hingga 1 Juli 2026 lalu.

