
Mahasiswa Sastra Indonesia Unisa Palu Teliti Perbandingan Leksikon Dialek Kaili Ledo dan Ado di Kabupaten Sigi
SIGI – Perkembangan zaman dan penggunaan bahasa nasional yang semakin masif perlahan membawa perubahan pada posisi bahasa daerah, termasuk dialek-dialek mikro bahasa Kaili yang ada di Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Sebagai bentuk kepedulian akademis terhadap fenomena ini, empat mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu melakukan penelitian lapangan di Kabupaten Sigi yang dimulai pada Selasa, 11 Juni 2026.
Berbekal semangat keilmuan dan kepedulian untuk merawat bahasa daerah, empat mahasiswa semester 6 Program Studi Sastra Indonesia turun langsung ke Sigi. Mereka menemui para penutur asli bahasa Kaili Ado untuk melakukan penelitian lapangan. Langkah kelompok yang di antaranya beranggotakan Arul, Alya, Andi Isma Wardani, dan Mohammad Amil Barokah ini berjalan dengan bimbingan dua dosen pengampu, yakni Mochamad Muchlis Romadon, M.Pd. dan Rizky Anugrah Putra, S.Pd., M.Pd.
Fokus dari penelitian linguistik deskriptif sinkronis ini adalah mengumpulkan dan mengklasifikasikan data leksikon adjektiva (kata sifat) antara bahasa Kaili Ado dan Ledo yang kemudian akan dianalisis secara kontrastif agar terlihat letak perbedaan strukturnya.
Dalam praktiknya, para mahasiswa mengamati bentuk morfofonemik seperti penggunaan prefiks na- dan ma-beserta medan maknanya yang mencakup watak, ukuran, cerapan indra, estetika, dinamika, dan emosi. Tujuannya adalah untuk mendokumentasikan persamaan dan perbedaan struktural antara dialek Kaili Ledo dan Kaili Ado secara tertulis.
Untuk mendapatkan data yang natural, tim peneliti turun langsung ke lokasi pengamatan di Desa Binangga (Kaili Ledo) dan Desa Sibalaya Utara (Kaili Ado). Alih-alih sekadar menyebar daftar pertanyaan, mereka berupaya membaur dengan keseharian warga untuk membangun komunikasi yang luwes sebelum mewawancarai narasumber utama, yakni para penutur jati berusia 30 hingga 60 tahun. Selama proses ini, ujaran didokumentasikan menggunakan perekam audio digital dan dicatat dengan saksama dalam catatan lapangan.
Selain itu, penelitian lapangan ini turut memberikan berbagai pengalaman berharga. Di Desa Binangga, misalnya, ketua adat yang awalnya bersedia menjadi narasumber utama berhalangan karena sakit. Hal ini mengajarkan tim untuk cepat beradaptasi dalam mencari penutur lain yang bersedia dan sama fasihnya dalam penggunaan bahasa Kaili. Faktor alam juga menjadi bagian dari proses belajar. Cuaca yang tidak menentu, curah hujan, hingga gempa bumi yang terjadi pada 16 Juni sempat membuat jadwal pengambilan data tertunda beberapa kali. Namun, kendala tersebut berhasil dilalui perlahan-lahan hingga tahap pengumpulan data rampung.
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang nyata bagi literasi kedaerahan. Saat ini, tim tengah menyusun draf artikel ilmiah dengan harapan dapat dipublikasikan di Jurnal Nasional Terakreditasi SINTA. Lebih dari itu, matriks kosa kata kedua bahasa Kaili yang berhasil dikumpulkan diharapkan dapat menjadi tambahan referensi bagi Fakultas Sastra Unisa Palu dan para praktisi pendidikan setempat.(ALY)



