
Kisah Salsabila dan Andi Isma Wardani: Berawal dari Buku Harian, Menjelma Jadi Penulis Esai Terbaik
Siapa sangka, kebiasaan sederhana menulis buku harian bisa mengantarkan seseorang ke panggung penghargaan bergengsi. Hal inilah yang dibuktikan oleh dua mahasiswi Fakultas Sastra Universitas Alkhairaat (Unisa) Palu, Salsabila dan Andi Isma Wardhani. Keduanya baru saja dinobatkan dalam deretan Penulis Esai Terbaik dalam ajang Selebrasi Krida Duta Bahasa Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah. Kisah inspiratif mahasiswi kebanggaan kampus ini dikupas tuntas dalam program “Ngobras” (Ngobrol Bareng Santai) di RRI PRO 1 Palu pada 3 Juli 2026, yang dipandu oleh penyiar Maria Imaculata.
Salsabila, atau yang akrab disapa Salsa, adalah mahasiswi asal Toli-Toli yang gemar mencoba hal-hal baru. Minatnya pada Fakultas Sastra ternyata berjodoh dengan hobi masa kecilnya. “Dari sekolah dasar memang sudah suka membuat catatan harian,” ungkap Salsa.
Setali tiga uang, Andi Isma Wardhani (Wanda), mahasiswi asal Kabupaten Sigi yang kini tengah sibuk menyusun riset tugas akhir, juga tumbuh dengan kecintaan mendalam pada literasi. Membaca, menulis cerpen, hingga mengunggah cerita di platform Wattpad adalah rutinitas yang membuatnya jatuh cinta pada dunia sastra. Bagi Wanda, ajang Krida Duta Bahasa ini adalah kompetisi pertama yang ia ikuti. Meski perdana, ia berhasil masuk 10 besar mengalahkan peserta dari berbagai kampus dengan mengangkat esai yang sangat relevan dengan kondisi saat ini yaitu “Literasi Digital di Tengah Ledakan Video Berbasis AI”. Ide ini lahir dari keprihatinannya melihat banyaknya video berbasis Artificial Intelligence (AI) yang kerap disalahgunakan untuk tujuan yang tidak pantas. Melalui tulisannya, ia mengajak masyarakat untuk lebih cerdas memilih dan memilah tontonan.
Di sisi lain, Salsa yang sebelumnya pernah masuk dalam deretan penulis terpilih dalam berbagai lomba penulis secara daring, memberanikan diri ikut serta setelah mendapat dorongan langsung dari dekan dan dosen. Menghabiskan waktu hampir setengah bulan untuk riset dan menyusun tulisan, Salsa mengangkat tema besar “Peluang dan Tantangan Bahasa Indonesia Menuju Bahasa Internasional”.
Proses kreatif keduanya tentu tidak lepas dari hambatan. Mereka mengaku sempat dihinggapi rasa takut dan kurang percaya diri terhadap kualitas tulisan masing-masing. Tantangan terbesar yang mereka hadapi bukanlah mencari referensi, mengingat akses jurnal, buku perpustakaan, ataupun akses internet melainkan mengelola mood. Untuk mengatasi hal ini, mereka punya resep andalan ala anak muda yaitu mendengarkan musik sebagai pemantik inspirasi. Khusus bagi Wanda yang merupakan pembelajar visual, ia juga memanfaatkan platform seperti TikTok dan Instagram untuk menggali ide visual yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Selain esai, jiwa sastra Wanda juga tertuang dalam puisi karyanya yang berjudul “Pernyataan Bangku Pojok”. Puisi ini menyuarakan perasaan sosok-sosok yang ingin menyampaikan pendapat, namun sering kali suaranya tidak didengar oleh lingkungan sekitar.
Penghargaan di Aula Balai Bahasa pada puncak acara Selebrasi Krida Duta Bahasa menjadi momen pembuktian bagi mereka. Pihak kampus pun menyambut kemenangan ini dengan rasa bangga dan bahagia. Bagi Wanda dan Salsa, penghargaan ini lebih dari sekadar trofi. “Bagi saya, penghargaan ini sangat berarti sebagai motivasi utama untuk terus berkarya,” ujar Wanda.
Kiprah Wanda dan Salsa membuktikan bahwa dengan konsistensi, keberanian mencoba, dan dukungan lingkungan, hobi sederhana bisa menjelma menjadi prestasi yang membanggakan. (Riz)



